
BUTON TENGAH – TEGAS.CO – Puluhan anak di Kabupaten Buton Tengah (Buteng), Sulawesi Tenggara, dilarikan ke fasilitas kesehatan setelah diduga mengalami keracunan massal usai mengonsumsi makanan yang dibagikan secara gratis.
Insiden yang terjadi pada Selasa sore (16/12/2025) ini melibatkan sekitar 50 anak yang sebelumnya menyantap hidangan dari salah satu dapur Operasional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Kelurahan Lakorua.
Warga setempat sempat dilanda kepanikan saat para korban berdatangan membanjiri dua unit Puskesmas untuk mendapatkan pertolongan medis.
Gejala Mual dan Muntah Menyerang Setelah Konsumsi MBG
Menurut laporan, puluhan anak tersebut tiba-tiba mengeluh gejala seperti mual, muntah, dan sakit perut hebat tak lama setelah mengonsumsi makanan tersebut.
Kepala Dinas Kesehatan Buton Tengah, Kasman, membenarkan insiden ini saat dikonfirmasi. Ia menyebutkan dugaan sementara mengarah pada konsumsi Makanan Bergizi Gratis (MBG).
“Dugaan sementara disebabkan puluhan anak-anak dan balita ini mengonsumsi Makanan Bergizi Gratis (MBG). Karena menurut petugas kami di lapangan, kebanyakan anak-anak ini berasal dari Desa yang berbeda,” jelas Kasman melalui sambungan telepon.
Korban Dirawat di Dua Lokasi
Saat ini, para korban keracunan sedang ditangani secara intensif di dua lokasi berbeda:
UPTD Puskesmas Mawasangka Tengah (termasuk UPTD Puskesmas Lakorua): Melayani sekitar 25 anak dan balita.
Puskesmas Watorumbe: Melayani kurang lebih 25 orang.
Kasman menambahkan bahwa puskesmas setempat telah sigap menangani para korban. Sebagian besar anak dilaporkan mengalami gejala keracunan makanan ringan.
“Mereka segera mendapat perawatan seperti pemberian cairan infus dan obat untuk meredakan gejala,” katanya.
Untuk memastikan penyebab pasti keracunan, Dinas Kesehatan telah mengambil langkah cepat.
“Kami masih melakukan pemeriksaan lebih lanjut untuk memastikan penyebab pasti keracunan. Sampel makanan telah diambil untuk dianalisis di laboratorium,” tutup Kasman.
SUMBER : Durasi.Co.id
EDITOR : Riski Apriabi
PUBLISHER : Riski Apriabi
