
MAWASANGKA – TEGAS.CO SENIN, 13/1/2026 – Awal tahun 2026 dibuka dengan kabar pilu yang mengguncang publik di Kecamatan Mawasangka. Dugaan kasus pelecehan seksual terhadap anak di bawah umur kembali mencuat, memicu gelombang keresahan dan ketakutan di tengah masyarakat.
Peristiwa yang terjadi pada awal Januari ini seolah menjadi pengingat keras bahwa ancaman terhadap keamanan anak-anak masih nyata, bahkan di lingkungan yang dianggap paling aman sekalipun.
Data Merah: 40 Kasus dalam 10 Tahun
Berdasarkan data yang dihimpun, kondisi perlindungan anak di Mawasangka berada dalam tahap yang mengkhawatirkan. Dalam kurun waktu sepuluh tahun terakhir, tercatat sedikitnya 40 kasus persetubuhan di bawah umur telah dilaporkan.
Secara rata-rata, setiap tahunnya terdapat 3 hingga 5 aduan masyarakat terkait kekerasan seksual anak yang masuk ke pihak berwenang. Angka ini dianggap sebagai “fenomena gunung es“, di mana jumlah sebenarnya di lapangan kemungkinan bisa lebih tinggi karena adanya korban yang enggan melapor.
Fakta Memilukan: Pelaku Orang Dekat
Berdasarkan pola kasus yang terjadi selama ini, terdapat beberapa fakta miris yang menjadi perhatian serius:
Rentang Usia Korban: Mayoritas korban adalah anak perempuan yang masih sangat muda, berkisar antara usia 7 hingga 16 tahun.
Profil Pelaku: Pelaku memiliki rentang usia yang sangat lebar, mulai dari remaja usia 15 tahun hingga lansia di atas 50 tahun.
Lingkaran Terdekat: Fakta yang paling menyakitkan adalah mayoritas aksi bejat ini terjadi di lingkungan keluarga sendiri, tempat yang seharusnya menjadi benteng perlindungan utama bagi anak.
Tantangan Keamanan di Era Digital
Kasus terbaru di awal 2026 ini memicu diskusi hangat di kalangan warga mengenai lemahnya pengawasan dan perlindungan anak, terutama di tengah gempuran era digital. Masyarakat menuntut adanya langkah nyata dari pemerintah setempat dan aparat penegak hukum untuk memberikan efek jera maksimal bagi pelaku.
“Ini bukan sekadar angka, ini soal masa depan anak-anak kita. Kita butuh sistem keamanan desa dan edukasi keluarga yang lebih kuat,” ujar DANDI salah satu warga BUTENG yang merasa gelisah dengan situasi ini.
Kini, publik menunggu langkah tegas dari pihak terkait untuk mengusut tuntas kasus terbaru ini dan memastikan pendampingan trauma bagi para korban.
Penulis : Riski Apriabi
Editor : Riski Apriabi
Publisher Riski Apriabi
