
KENDARI – Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra), Asrun Lio, menyebut kolaborasi lintas sektor menjadi kunci utama dalam mengembangkan ekonomi kreatif dan melestarikan budaya daerah.
Hal ini disampaikan saat membuka perhelatan Kendari Culture 2026 di Kota Kendari, Rabu (28/1/2026).
Menurut Asrun Lio, keterlibatan akademisi, lembaga internasional, hingga pelaku industri mode sangat diperlukan agar potensi lokal Sultra bisa dikenal lebih luas di kancah internasional.
“Sulawesi Tenggara dianugerahi kekayaan budaya yang luar biasa, salah satunya wastra tenun. Setiap motif tenun dari berbagai daerah bukan sekadar kain, tetapi merupakan naskah sejarah yang memuat nilai-nilai filosofis yang mendalam,” ungkapnya.
Dalam sambutannya, Sekda Sultra menjabarkan tiga poin krusial yang menjadi landasan pelaksanaan kegiatan tahun ini. Pertama, menjadi ruang kolaborasi antara Indonesia dan Amerika Serikat di bidang pendidikan dan kebudayaan, khususnya melalui peran AMINEF.
Kedua, mengenalkan produk budaya Sultra yang telah bertransformasi menjadi karya busana modern, elegan, dan siap bersaing secara global.
Ketiga, mendekatkan wastra tenun kepada generasi muda agar mereka merasa bangga mengenakan produk lokal.
Asrun berharap, wastra tenun tidak lagi dipandang sebagai pakaian formal yang kaku, melainkan menjadi bagian dari gaya hidup anak muda.
“Kita ingin generasi muda bangga mengenakan tenun daerah bukan karena kewajiban, tetapi karena merasa fashionable dan percaya diri,” tambahnya.
Kegiatan Kendari Culture 2026 ini merupakan buah dari kerja sama erat antara Universitas Muhammadiyah Kendari, AMINEF, dan Asosiasi Pengusaha Perancang Mode Indonesia (APPMI) Sultra.
Asrun Lio menyampaikan, apresiasi setinggi-tingginya kepada seluruh pihak yang telah berinisatif menyelenggarakan acara ini demi keberlanjutan warisan budaya dan pertumbuhan ekonomi kreatif di Bumi Anoa.
Editor: Tim Redaksi
