
KENDARI – Suasana khidmat menyelimuti pelataran Rumah Jabatan (Rujab) Gubernur Sulawesi Tenggara (Sultra), Minggu (26/4/2026). Di bawah naungan tradisi yang luhur, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sultra bersama Dewan Pengurus Pusat Lembaga Adat Tolaki (DPP LAT) menggelar prosesi penganugerahan gelar kehormatan adat kepada dua tokoh penting nasional dan daerah.
Gelar tersebut disematkan langsung oleh Ketua Umum DPP LAT sekaligus Mokole (Raja) Konawe ke-34, Lukman Abunawas, kepada Kepala Staf Angkatan Udara (KASAU), Marsekal Madya TNI Mohamad Tonny Harjono, serta Gubernur Sultra, Andi Sumangerukka.
Penganugerahan ini bukanlah sekadar seremoni biasa, melainkan rangkaian ritual yang sarat akan makna filosofis. Kehadiran Ketua DPRD Sultra, jajaran Forkopimda, hingga para bupati se-Sultra menjadi saksi bisu betapa kentalnya penghormatan terhadap akar budaya lokal di tengah tata kelola pemerintahan modern.
Alur prosesi dimulai dengan pembacaan Surat Keputusan yang diikuti dengan penyuguhan sirih pinang sebagai simbol penyambutan tamu agung. Puncak suasana haru terjadi saat ritual mombesara wonua dilakukan oleh Tolea, yang kemudian dilanjutkan dengan sumpah sakral oleh hakim adat.
Sebagai simbol perlindungan dan kepemimpinan, prosesi diakhiri dengan penyematan serta penyerahan Taawu (pedang adat) beserta piagam nama gelar adat kepada kedua tokoh tersebut.
Berdasarkan Keputusan DPP LAT Nomor: 053/KPTS/DPP/LAT/IV/2026, kedua tokoh ini menerima gelar yang mencerminkan tanggung jawab besar mereka terhadap bangsa dan daerah.
Marsekal Madya TNI Mohamad Tonny Harjono (KASAU): Dianugerahi gelar Tumonda Meotalinga Bundu. Gelar ini memiliki makna mendalam sebagai “Panglima atau Penguasa Angkatan Udara”, sebuah pengakuan atas perannya menjaga kedaulatan dirgantara.
Andi Sumangerukka (Gubernur Sultra): Menerima gelar Lariwu Wuanggiha Lasawonua. Gelar ini mengartikan sosok pemimpin yang perintahnya didengar dan dihormati di negeri Wonua (tanah tumpah darah).
Bagi Lembaga Adat Tolaki, pemberian gelar ini bukan sekadar bentuk penghormatan setinggi langit, melainkan sebuah titipan amanah. Para penerima gelar kini memikul tanggung jawab moral untuk menjaga kehormatan, martabat, serta nilai-nilai luhur suku Tolaki dalam setiap nafas pengabdian mereka kepada masyarakat.
Kegiatan ini sekaligus mempertegas komitmen Pemprov untuk terus mempererat sinergi dengan lembaga adat. Dengan mengintegrasikan nilai budaya ke dalam pelayanan publik, diharapkan pembangunan di Sultra tetap berpijak pada identitas dan kearifan lokal yang kokoh.
Editor: Tim Redaksi