
KENDARI – Wajah perekonomian Kota Kendari di awal tahun 2026 mulai menunjukkan gairah yang menjanjikan. Ibarat sebuah mesin yang sedang memanaskan silindernya, realisasi investasi di ibu kota Sulawesi Tenggara (Sultra) ini perlahan bergerak naik, memberikan sinyal positif bagi target tahunan yang ambisius.
Berdasarkan data terbaru hingga penghujung triwulan pertama (Januari–Maret), Kota Kendari berhasil membukukan nilai investasi sebesar Rp353,94 miliar. Angka ini setara dengan 24 persen dari total target tahunan yang dipatok sebesar Rp1,45 triliun.
Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kota Kendari, Ibram Agus Sakti, mengungkapkan bahwa capaian ini adalah langkah awal yang solid.
“Capaian ini masih dalam tahap awal karena baru memasuki triwulan pertama. Kami optimistis realisasi investasi akan terus meningkat seiring berjalannya tahun,” ujar Ibram saat ditemui di ruang kerjanya, Selasa (28/4/2026).
Optimisme ini bukan tanpa alasan, mengingat rekam jejak investasi Kendari yang cukup fluktuatif namun tangguh dalam beberapa tahun terakhir. 2022 capaian melampaui target hingga 111 persen, 2023–2024 mengalami tekanan dan koreksi signifikan di angka 62 persen dan 54 persen, dan 2025 menjadi titik balik pemulihan dengan keberhasilan mencapai 83 persen.
Menariknya, struktur permodalan di Kendari tahun ini masih menjadi “panggung” bagi pengusaha lokal. Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) mendominasi dengan kontribusi 70,1 persen (Rp248,27 miliar). Meski demikian, daya tarik bagi investor asing tetap terjaga dengan sumbangan Penanaman Modal Asing (PMA) sebesar 29,9 persen (Rp105,66 miliar).
Negara-negara seperti Jepang, Singapura, hingga Hongkong tercatat sebagai pemain utama yang melirik potensi Kendari. Masuknya modal dari luar negeri ini diharapkan tidak hanya membawa uang, tetapi juga transfer teknologi dan perluasan jaringan ekonomi internasional.
Sejauh ini, sektor jasa atau sektor tersier masih menjadi magnet utama bagi para pemilik modal. Lebih dari 70 persen investasi mengalir ke sektor perdagangan dan reparasi, disusul oleh pertambangan, perhotelan dan restoran, perumahan serta kawasan Industri.
Kendati sektor transportasi dan telekomunikasi sudah mulai menyumbang angka, pemerintah kota berharap ada pergeseran ke arah sektor sekunder (pengolahan) agar tercipta nilai tambah yang lebih besar bagi daerah.
Bagi Pemerintah Kota (Pemkot) Kendari, investasi bukan hanya soal deretan angka di atas kertas. Realisasi di triwulan pertama ini telah membuktikan dampaknya secara langsung dengan menyerap ratusan tenaga kerja lokal.
Untuk menjaga momentum ini, Ibram Agus Sakti menegaskan bahwa pihaknya tengah fokus “bersolek” memperbaiki pelayanan. Digitalisasi perizinan dan kepastian hukum menjadi senjata utama untuk memikat investor.
“Kami terus melakukan pembenahan, baik dari sisi regulasi maupun pelayanan. Harapannya, investasi yang masuk tidak hanya meningkat secara angka, tetapi juga berkualitas dan berkelanjutan,” tutupnya.
Dengan strategi yang lebih matang dan iklim usaha yang kondusif, Kendari kini tengah bersiap memperkuat posisinya sebagai epicentrum pertumbuhan ekonomi baru di jazirah Sultra.
Editor: Tim Redaksi