RSJPD Oputa Yi Koo Buka Layanan Intervensi Non Bedah, Pasien Tak Perlu Lagi ke Jakarta

RSJPD_Oputa_Yi_Koo
Rumah Sakit Jantung dan Pembuluh Darah (RSJPD) Oputa Yi Koo Kendari resmi memperkuat layanan spesialistiknya melalui pelaksanaan perdana layanan Intervensi Non Bedah (INB). Foto: Dinas Kominfo Sultra @2026

KENDARI – Harapan masyarakat Sulawesi Tenggara (Sultra) untuk mendapatkan akses kesehatan jantung yang lebih dekat dan berkualitas kini mulai terwujud. Rumah Sakit Jantung dan Pembuluh Darah (RSJPD) Oputa Yi Koo Kendari resmi memperkuat layanan spesialistiknya melalui pelaksanaan perdana layanan Intervensi Non Bedah (INB).

Langkah ini menjadi tonggak sejarah baru dalam dunia medis di Bumi Anoa. Dengan adanya fasilitas INB, masyarakat tidak perlu lagi menempuh perjalanan jauh ke Makassar maupun Jakarta untuk mendapatkan tindakan medis jantung tertentu.

Pelaksana harian (Plh) Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi Sultra, Muhammad Fadlansyah, menegaskan bahwa penguatan layanan ini adalah bentuk nyata komitmen pemerintah dalam menghadirkan pemerataan kesehatan.

Saat membuka kegiatan Proctorship Intervensi Non Bedah Perdana sekaligus penandatanganan kerja sama jejaring pengampuan layanan jantung se-Sultra pada Jumat (15/5/2026), ia menyampaikan optimisme besarnya.

“Harapannya masyarakat Sulawesi Tenggara bisa mendapatkan pelayanan kesehatan yang cepat, tepat, dan berkualitas tanpa harus dirujuk ke luar daerah,” ujarnya di RSJPD Oputa Yi Koo.

Program transformatif ini merupakan hasil kolaborasi lintas instansi, mulai dari Kementerian Kesehatan RI, RSJPD Harapan Kita Jakarta, RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta, hingga rumah sakit daerah di 17 kabupaten/kota se-Sultra.

Direktur RSJPD Oputa Yi Koo, dr. Agus Purnomo Hidayat, mengungkapkan bahwa sejak sehari sebelum peluncuran resmi, tindakan INB sudah mulai dilakukan terhadap tujuh pasien yang berasal dari Bombana, Kolaka Timur, Konawe, hingga Kota Kendari.

Banyaknya pasien yang langsung terakomodasi ini menjadi bukti bahwa kebutuhan akan layanan jantung di Sultra memang sangat besar.

“Melalui pendampingan dari rumah sakit pengampu nasional dan regional, kami berharap kualitas pelayanan dan keselamatan pasien terus meningkat,” jelas dr. Agus.

Dukungan penuh juga datang dari RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta. Direktur Medik dan Keperawatan mereka, dr. Affan Priyambodo Permana, menyatakan kesiapannya untuk membantu transfer pengetahuan dan teknologi. Baginya, kunci keberhasilan bukan hanya pada kemampuan medis semata, melainkan juga pada tata kelola dan sistem rujukan yang terintegrasi.

“Kami berharap penanganan pasien jantung di Sulawesi Tenggara bisa dilakukan lebih cepat sehingga kebutuhan rujukan keluar daerah semakin berkurang,” harap dr. Affan.

Senada dengan hal tersebut, Direktur Layanan Operasional RSJPD Harapan Kita Jakarta, Dr. Haruddin, mengapresiasi kemajuan ini sebagai langkah besar bagi masyarakat lokal.

“Masyarakat Sultra kini tidak perlu lagi jauh-jauh ke luar daerah untuk mendapatkan layanan jantung tertentu karena sudah mulai bisa dilakukan di daerah sendiri,” katanya.

Di sisi lain, Direktur Pelayanan Klinis Kementerian Kesehatan RI, dr. Budhi Suryadharma, menjelaskan bahwa penguatan di RSJPD Oputa Yi Koo ini merupakan bagian integral dari transformasi kesehatan nasional. Fokus utamanya adalah memperkuat layanan prioritas, khususnya untuk penyakit jantung dan pembuluh darah yang menjadi salah satu penyebab kematian tertinggi.

Melalui penandatanganan kerja sama dengan 17 kabupaten/kota, sistem rujukan di Sulawesi Tenggara diharapkan menjadi lebih solid, sehingga akses layanan kesehatan spesialistik benar-benar menjangkau hingga pelosok daerah.

TIM REDAKSI