Wali Kota Siska Karina Imran Serap Aspirasi Warga Mandonga-Puuwatu

88598f69-78d6-4201-a3ac-e77dcede77c
Melalui kegiatan “Wali Kota Kendari Menyapa” yang digelar di halaman Kantor Camat Puuwatu, Selasa (18/8/2026), Pemkot Kendari membuka ruang dialog langsung bersama warga Kecamatan Mandonga dan Puuwatu. Foto: Dinas Kominfo Sultra @2026

KENDARI, PETARUNGSULTRA.COM – Pemerintah Kota (Pemkot) Kendari terus berupaya mempererat komunikasi dengan masyarakat. Melalui kegiatan “Wali Kota Kendari Menyapa” yang digelar di halaman Kantor Camat Puuwatu, Selasa (18/8/2026), Pemkot Kendari membuka ruang dialog langsung bersama warga Kecamatan Mandonga dan Puuwatu.

Kegiatan ini menjadi momentum penting bagi pemerintah untuk mendengar langsung pelbagai persoalan yang menghambat kenyamanan warga, mulai dari masalah persampahan, banjir, jalan rusak, minimnya penerangan jalan, hingga dinamika data penerima bantuan sosial.

Wali Kota Kendari, Siska Karina Imran menjelaskan bahwa forum ini sengaja dihadirkan untuk memperluas jangkauan komunikasi antara pemerintah dan masyarakat. Ia menegaskan, pemerintah memerlukan sudut pandang warga yang bersentuhan langsung dengan kondisi di lapangan.

“Tidak semua orang bisa menyuarakan apa yang terjadi. Kacamata saya dan Pak Wakil berbeda dengan kacamata Bapak/Ibu,” ungkap Siska.

Menurut Siska, pelibatan ketua RT, RW, LPM, Karang Taruna, hingga tokoh masyarakat dan tokoh adat sangat krusial. Aspirasi dari unsur-unsur tersebut dinilai mampu memberikan gambaran yang lebih utuh terkait realitas di lingkungan kelurahan.

Keluhan Warga dan Langkah Solutif

Dalam sesi dialog, warga dari berbagai kelurahan menyampaikan keluh kesah mereka. Warga Mandonga, Korumba, dan Lalodati menyoroti ancaman banjir yang kerap mengintai. Sementara itu, minimnya penerangan jalan—termasuk di sekitar area belakang Rumah Jabatan Gubernur dan jalur dua—menjadi perhatian serius karena dinilai membahayakan pengguna jalan saat malam hari.

Terkait persoalan bantuan sosial, warga Kelurahan Punggolaka menyampaikan keresahan atas perubahan klasifikasi atau desil data kemiskinan yang menyebabkan sejumlah penerima kehilangan bantuan.

Menanggapi berbagai masukan tersebut, Wali Kota Siska menegaskan bahwa seluruh aspirasi akan menjadi bahan evaluasi dan dasar penentuan langkah penanganan. Siska berharap dialog ini menjadi fondasi kuat dalam membangun kolaborasi untuk menyelesaikan persoalan perkotaan.

“Kita ingin Kota Kendari menjadi kota yang bersih, tertib dan indah. Untuk itu, peran serta seluruh lapisan masyarakat, khususnya di tingkat kelurahan, RT dan RW sangat kami harapkan,” tegasnya.

Fokus Penanganan Sampah

Isu persampahan menjadi salah satu poin yang mendapat sorotan tajam. Dengan volume produksi sampah mencapai 300 ton per hari—di mana 85 persen berasal dari rumah tangga—Siska menekankan perlunya partisipasi kolektif.

Pemkot Kendari kini tengah menyiapkan program Lembaga Penanganan Sampah (LPS) berbasis kelurahan. Program ini diharapkan dapat menutup celah keterbatasan armada pemerintah.

“Persampahan ini tanggung jawab kita semua. Bukan sampah ini tanggung jawab pemerintah saja,” ujarnya.

Program yang ditargetkan berjalan pada November 2026 ini akan melibatkan perangkat masyarakat mulai dari tingkat RT hingga tokoh adat. Nantinya, mekanisme pengangkutan sampah akan dioptimalkan menggunakan kendaraan roda tiga agar lebih efektif menjangkau lorong-lorong padat penduduk.

Selain itu, Pemkot Kendari juga mendorong masyarakat untuk mulai memilah sampah dari rumah. Sampah bernilai ekonomi nantinya dapat disalurkan ke bank sampah, sehingga warga bisa mendapatkan nilai tambah dari pengelolaan sampah mereka sendiri. Saat ini, program ini tengah dalam tahap sosialisasi dengan pilot project yang mencakup delapan kecamatan dan 15 kelurahan.

Editor: Tim Redaksi